| link-link |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Malaysia Super Series
Menunggu Berkah Stadion Putra
Stadion Putra di Kompleks Bukit Jalil, Kuala Lumpur, tentu tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan pemain Indonesia. Di stadion yang dibangun pada 1998 itu, pendekar bulutangkis Indonesia selalu mengukir hasil manis. Akankah kini memberikan berkah kembali?
Pada tahun 2000, tim Piala Thomas kita sukses memperpanjang dominasi di ajang kejuaraan bulutangkis beregu putra dunia. Di final, Merah-Putih menggulung Cina dengan 3-0 langsung. Kemenangan itu pun menambah panjang daftar keberhasilan Indonesia merebut Piala Thomas secara berturut-turut sejak 1994 di Jakarta.
Yang terakhir tentu Agustus silam. Pada Kejuaraan Dunia XVI, pemain-pemain Indonesia, yang sebelumnya dipandang sebelah mata, justru mengejutkan dan mengukir prestasi bagus. Skuad Cipayung menempatkan tiga pemain dan pasangan di tiga nomor final. Sebuah prestasi besar di tengah kelesuan yang melanda perbulutangkisan kita.
Hasil akhir: Markis Kido/Hendra Setiawan di ganda putra dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (campuran) menjadi juara dunia. Sementara itu, Sony Dwi Kuncoro gagal mengikuti jejak rekannya itu setelah dikalahkan Lin Dan (Cina).
Kini, di turnamen Malaysia Super Series berhadiah total 200 ribu dolar AS, yang berlangsung 15-20 Januari, berkah Stadion Putra tentu sangat diharapkan kubu Indonesia. Apalagi, para punggawa pada Kejuaraan Dunia lalu itu kini tetap menjadi andalan Merah-Putih.
Salah satunya adalah Sony. Pemain kelahiran Surabaya, 7 Juli 1984 ini digadang-gadang bisa kembali tampil dalam top form seperti di Kejuaraan Dunia silam. Sebagai unggulan kelima, Sony tentu diharapkan bisa mencuri gelar juara.
Di babak pertama, juara Grand Prix Taiwan Terbuka 2007 itu bakal ditantang bekas pemain utama korea, Lee Hyun-il. Kalau lolos di babak kedua, ada kemungkinan ia akan berjumpa Anup Sridhar, pemain India yang mengalahkan Taufik Hidayat di Kejuaraan Dunia silam. Bila terus meluncur, di perempatfinal mungkin Sony bertemu Chen Jin, unggulan ketiga dari Cina.
“Tidak muluk-muluk, membuka 2008 ini, saya hanya ingin tampil lebih baik dibanding tahun lalu,” sebut Sony di sela-sela acara malam keakraban Tim Piala Thomas di Jakarta pekan silam.
Itu artinya Sony ingin memunculkan penampilan apik seperti Agustus silam di tempat yang sama. Kala itu, dia menggusur andalan tuan rumah, Lee Chong Wei di babak ketiga, lalu Peter Gade (Denmark) di perempatfinal, serta Chen Yu (Cina) di semifinal.
Harapan Taufik dan Simon
Selain Sony di tunggal putra, harapan pun dibebankan kepada Taufik dan Simon Santoso. Taufik, unggulan keenam yang ingin meretas prestasi baik pada 2008, bertemu Park Sung-hwan. Pemain Korea ini tahun lalu membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan pertama, Lin Dan (Cina).
Sementara itu, Simon ditantang Boonsak Ponsana (Tahialnd). Sayang kalau kedua pemain kita itu lolos, duel sesama Indonesia bakal tersaji di babak kedua. Di perempatfinal, ada kemungkinan salah satu pemain kita itu bertemu Lee Chong Wei.
Seandainya Taufik bertemu Chong Wei, ini tentu salah satu partai yang ditunggu-tunggu publik negeri jiran. Terakhir, mereka bertemu di final Jepang Super Series, September. Ketika itu pertarungan pun berlangsung ketat dan dimenangi pemain Malaysia itu dengan 22-20, 19-21, 21-19.
Maria Mundur
Di tunggal putri, pemain Maria Kristin Yulianti terpaksa mundur. Pemain berusia 22 tahun kelahiran Tuban (Jatim) itu terpaksa batal tampil di Malaysia Super Series karena sakit flu.
“Saya tidak jadi berangkat. Kondisi saya belum fit benar, masih kena flu,” tutur Maria.
Padahal Maria, peraih medali emas SEA Games di Nakhon Ratchasima, adalah satu-satunya pemain putri kita yang lolos ke babak utama. Dua rekannya, Adrianti Firdasari dan Pia Zebadiah, harus merangkak dari babak kualifikasi.
Dengan begitu, sektor putri tinggal berharap kepada Firda dan Pia. Cuma, untuk masuk ke babak utama pun langkahnya sangat berat. Kalaupun lolos, menggapai gelar juara bukan pekerjaan enteng dan mungkin bisa dibilang membutuhkan keajaiban.
“Target saya ya lolos ke babak utama dulu. Semoga saja bisa melangkah lebih jauh di babak utama,” harap Firda, peraih medali perak SEAG 2007 ini.
Akankah Stadion Putra kembali memberikan berkah bagi anak-anak Cipayung? Kita tunggu saja! (Broto Happy W.)
PEMAIN YANG DIKIRIM
----------------------------
Tunggal Putra: Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Simon Santoso, Tommy Sugiarto, Alamsyah Yunus
Tunggal Putri: Adrianti Firdasari, Pia Zebadiah
Ganda Putra: Markis Kido/Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto, Joko Riyadi/Hendra Aprida Gunawan, Bona Septano/Muhammad Aksan
Ganda Putri: Rani Mundiasti/Endang Nursugianti, Vita Marissa/Lilyana Natsir, Jo Novita/Greysia Polii, Nitya Krishinda/Lita Nurlita
Ganda Campuran: Nova Widianto/Lilyana Natsir, Flandy Limpele/Vita Marissa, Muhammad Rizal/Greysia Polii, Davin Lahardi/Lita Nurlita
>> Kembali ke Atas
Cina Ditinggalkan Huang Sui
Inilah pukulan berat bagi ganda putri Cina. Huang Sui, yang selama berpasangan dengan Gao Ling terpaksa memilih pensiun lebih cepat. Dia menyebut kematian sang ayah membuatnya berhenti lebih cepat.
Memang saat ini Cina begitu mendominasi sektor putri, baik tunggal maupun ganda. Di ganda, Cina memiliki ganda top dunia macam Zhang Yawen/Wei Yili, Gao Ling/Zhao Tingting, Du Jing/Yu Yang, dan Yang Wei/Zhang Jiewen. Namun, pengunduran diri pemain berusia 26 tahun itu cukup mengagetkan.
Sang ayah, Huang Chuanbiao, seperti dikutip situs bulutangkis internasional, dikabarkan meninggal dunia pada awal tahun ini. Chuanbiao meninggal setelah menderita sakit kanker.
Kematian orang yang sangat dicintai itulah yang sangat memukul mental pemain kelahiran 8 Januari 1982 tersebut. Huang Sui memang sempat bimbang untuk memilih terus berkarier dalam bulutangkis atau berhenti demi keluarga. Akhirnya dengan berat hati dia memilih gantung raket demi menemani hari-hari penuh kesedihan sang ibu di tempat kelahirannya, Provinsi Hunan.
Demi sang mama, impian untuk menyabet emas Olimpiade Beijing, Agustus nanti terpaksa ia buang jauh-jauh. Padahal, peluang untuk menyabet emas Olimpiade juga belum tertutup, malah sangat besar. Apalagi, sebenarnya dia ingin meraih mimpi sukses di Olimpiade mendatang setelah di Athena 2004 dia hanya meraih medali perak.
Pasangan Gong Ruina
Huang Sui adalah salah satu pemain ganda terbaik Cina saat ini. Berpasangan dengan Gao Ling, mereka menjadi juara dunia 2006 di Madrid. Sayang pada kejuaraan serupa di Kuala Lumpur tahun lalu, mereka dikalahkan kompatriotnya, Yang Wei/Zhang Jiewen, dengan 16-21, 19-21.
Bersama dengan Gao Ling, pasangan ini menjuarai enam kali All England secara terus-menerus. Selain itu, sepanjang kariernya, paling tidak pasangan top dunia itu telah memenangi 25 gelar internasional. Terakhir, duet ini menjuarai Grand Prix Makau Terbuka Oktober silam.
Di nomor tim, Huang Sui juga sempat tiga kali mengantarkan Cina merebut Piala Uber. Dia juga menjadi salah satu pemain Cina saat merebut Piala Sudirman 2007 di Glasgow.
Huang Sui mengawali kiprah di ganda, berpasangan dengan Gong Ruina. Pada 1998, Huang Sui/Ruina sempat menjadi finalis Kejuaraan Dunia Junior. Pada 2001, mereka juara di Jepang Terbuka. Goang Ruina kemudian meniti karier sebagai pemain tunggal dan sempat menjadi juara dunia 2001 di Sevilla.
Maret tahun lalu, sebenarnya Huang Sui ingin menggenapkan mahkota All England-nya. Sayang dia mendapat berita bahwa kondisi sang ayah makin kritis. Dia pun mengaku konsentrasinya terbelah. Ujung-ujungnya, dia hanya bertahan hingga semifinal. Sebenarnya, dia masih akan melanjutkan mengikuti turnamen Swiss Super Series. Namun, ia kemudian memilih kembali ke Hunan. (bhw)
>> Kembali ke Atas
Peter Tetap Haus Gelar
Tahun lalu Peter Gade menyebut kemenangan di turnamen pembuka tahun 2007, Malaysia Super Series, begitu berkesan. Dari pemain yang tidak diunggulkan, pebulutangkis Denmark itu kemudian menjadi jawara. Terlebih lagi penonton pun mendukungnya.
“Kemenangan di sini benar-benar sangat berkesan. Saya datang dalam kondisi sakit, bahkan kemudian sempat dibawa ke rumah sakit. Dalam kondisi tidak begitu prima, saya memaksakan diri dan akhirnya menjadi juara. Sebuah hasil yang patut untuk dikenang terus,” tutur Peter kala itu kepada pers, termasuk BOLA.
Di final, ayah dari Nanna (2) dan suami Camilla Hoeg itu menggusur Bao Chunlai (Cina) dengan 21-15, 17-21, 21-14. Uniknya, demi memuluskan gelar tetap didapat pemain Cina, Chunlai ke final menang tanpa tanding setelah Chen Hong mengaku sakit.
Dalam usia ke-31, ternyata Peter tidak mau berhenti mengukir prestasi. Bahkan, menutup tahun 2007, dia menggenapkan prestasi besar. Dia merebut gelar Kopenhagen Masters untuk kedelapan kali secara berturut-turut sejak 1999.
Ketika memenangi mahkota atas rekannya, Kenneth Jonassen, juara All England 1999 itu mengaku dirinya tetap haus gelar juara. Kendati umurnya sudah berkepala tiga, itu tidak menyurutkan langkah. Dia tetap bisa bersaing dengan pemain-pemain yang usinya jauh lebih muda seperti Lin Dan (Cina/24 tahun), Taufik Hidayat (Indonesia/26), atau Lee Chong Wei (Malaysia/26).
“Saya tetap ingin merebut gelar juara. Saya akan terus bertahan hingga Olimpiade Beijing nanti,” sebut penggemar klub Liverpool tersebut.
Mumpung Lin Dan absen, Peter mau memanfaatkan peluang. Dia ingin kembali merebut gelar di Malaysia Super Series seperti tahun lalu. Akankah kemampuan Peter tetap tajam? Simak perjuangannya di Stadion Putra, Bukit Jalil, 15-20 Januari. (bhw)
>> Kembali ke Atas
|
|
|
|
|
|
| |
Today, there have been 1 visitors (1 hits) on this page! |
|
|
|
|
|
|
|